Kampung Adat Wae Rebo, Sebuah Catatan Perjalanan dari Timur Indonesia

Kampung Adat Wae Rebo. Foto: Yogo Pratomo



KoncoGuru-Kali ini, saya dan rombongan pengajar muda SM-3T berkesempatan untuk menikmati pesona keindahan Waerebo. Waerebo adalah sebuah kampung adat yang terpencil dan dikelilingi oleh pegunungan yang terletak di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Perjalanan ini saya mulai dari Bajawa menggunakan truk muatan yang dimodifikasi menjadi kendaraan penumpang atau di sini lebih dikenal dengan sebutan otto kayu.

Otto Truk. Foto: Yogo Pratomo
Di Flores, otto kayu ini sering digunakan untuk mengangkut penumpang, ternak, dan hasil pertanian  dari  desa-desa terpencil ke kota maupun sebaliknya. Ini adalah kali pertama saya naik otto kayu, rasanya penuh dengan sensasi. Saya sengaja duduk di bagian paling belakang karena dengan duduk di sini saya akan dengan mudah merasakan sensasi perjalanan yang luar biasa ketika menumpang kendaraan ini.

Saya duduk di pintu bak truk yang sengaja dibuka dengan kemiringan 45 drajat agar bisa digunakan untuk tempat duduk. Rasanya memang sesuai dengan yang saya bayangkan. Saya bisa merasakan asyiknya menikmati sebuah perjalanan, ditambah lagi dengan pemandangan alam yang disuguhkan di bumi Flores ini menambah keyakinanku bahwa alam dan seisinya adalah hadiah dari Tuhan yang haurs kita jaga kelestariannya. Walaupun pantat terasa agak pegal karena terlalu lama duduk di kayu, namun asyiknya naik otto kayu tak kalah serunya kalau dibandingkan menaiki dokar atau delman di Yogyakarta.

Tujuan pertama kami adalah Kota Ruteng yang terletak di Manggarai Tengah, Nusa Tenggara Timur. Perjalanan dari Bajawa-Ruteng menggunakan otto kayu memakan waktu sekitar 5 jam, lebih lambat daripada kita naik mobil travel. Namun itu tidak menjadi soal karena yang saya butuhkan dalam sebuah perjalanan adalah bisa menikmati dan meghayati arti dari sebuah perjalanan itu sendiri. Saya selalu belajar bahwa traveling itu adalah seni menikmati sebuah perjalanan, bukan melulu soal destinasi melainkan hikmah dan pelajaran yang didapat saat traveling itu sendiri.

Hujan rintik-rintik ketika rombongan kami memasuki kota Ruteng, karena waktu sudah sore dan ditambah dengan cuaca yang kurang mendukung, akhirnya kami memutuskan untuk menginap satu malam di Ruteng. Kami menginap di basecamp  pengajar SM-3T yang ada di Ruteng. Bagi sebagian orang Flores identik dengan alam yang gersang, namun di Ruteng ini semua anggapan itu seolah sirna. Ruteng adalah salah satu kota terdingin di Flores, tentunya setelah Bajawa dan Danau Kelimutu di Ende. Wilayah kota Ruteng yang dikelilingi oleh pegunungan ini suhu pada malam hari bisa sangat dingin. Segelas kopi Manggarai menjadi penghangat tubuh kami yang kedinginan malam itu. Berbeda dengan di Bajawa, orang Ruteng lebih suka menikmati kopi pahit tanpa gula. Rasa kopi di sini juga tak kalah enak dengan kopi dari Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Malam kian larut, udara dingin pun semakin menusuk tulang. Setelah menghabiskan secangkir kopi dan beberapa batang Gudang Garam Surya kami pun memutuskan untuk beristirahat.

Pagi hari Kota Ruteng tampak senyap karena kebetulan saat itu bertepatan dengan perayaan Paskah. Niatku untuk membeli beberapa perlengkapan dan keperluan ke Waerebo pun terpaksa dibatalkan. Dalam sebuah perjalanan kita harus menyiapkan segala sesuatunya dengan baik dan matang, saat itu saya tidak menyiapkan perlengkapan dengan baik yang menyebabkan saya sedikit khawatir dalam perjalanan ini. Namun, hal ini tidak menyurutkan niatku untuk datang ke Waerebo.

Perjalanan pun dimulai dengan tujuan desa Denge. Desa terdekat untuk menuju Waerebo yang masih bisa diakses menggunakan kendaraan. Sampai di desa Denge, jangan harap anda mendapatkan sinyal hanphone yang bagus. Karena untuk mendapatkan sinyal hanya ada di beberapa titik tertentu saja.
Berburu Sinyal Telepon Seluler. Foto: Yogo Pratomo

Setelah beristirahat sejenak di sebuah rumah singgah, kami semua mulai melakukan perjalanan menuju kampung Waerebo. Kampung Waerebo ini adalah kampung yang sangat terisolasi. Lokasinya berada diantara bukit dan lembah yang aksesnya susah. Kami melakukan tracking kurang lebih selama 5 jam. Akses jalan yang didominasi oleh jalan mendaki itu membuat saya beberapa kali ingin menyerah. Namun saya sudah di tengah jalan, kalaupun harus putar balik pun akan sia-sia. Dengan sisa nafas saya lanjutkan perjalanan yang sangat menguras tenaga ini.

Setelah perjalanan yang melelahkan ini, akhirnya kami semua sampai di Kampung Waerebo. Sebuah Kampung diantara bukit dan lembah yang sangat terpencil nan eksotis. Di sini kami akan menginap satu malam di rumah adat kampung Warebeo yang bernama Mbaru Niang bersama warga lokal. Mbaru Niang adalah sebuah rumah adat kampung Waerebo, rumah adat ini memiliki bentuk seperti kerucut yang unik. Kami disambut oleh salah satu tetua adat di sana, sambil mendengarkan arahan beliau kami semua dikasih kesempatan untuk mencoba kopi khas Waerebo. Udara dingin ditemani secangkir kopi, seperti dua kekasih yang tak dapat dipisahkan. Sungguh nikmat rasanya.
Kampung Waerebo dan keunikan rumah adat serta masyarakatnya. Foto: Elthon

Keesokan harinya, kami semua berkumpul dan mulai berkemas-kemas untuk pulang. Kesempatan perjalanan ke Waerebo ini sungguh akan sulit dilupakan. Sebuah perjalanan yang menguras tenaga, namun akan indah pada waktunya. Flores, sekali lagi kau perlihatkan keindahan dan keunikan pulaumu. Semoga ini adalah bukan kesempatan pertama dan terakhirku untuk menjamah bumi Flores.

Comments