Thanks, Aimere

Aimere, kau mengajarkan aku banyak hal di sini. Banyak pelajaran yang kau berikan. Malam ini dan di ruangan ini, aku ingin bercerita banyak hal tentangmu Aimere. Ketika pertama kali aku menginjakkan kaki di tanahmu, jujur, aku hanya berfikir apakah aku sanggup berada di sini dan mengemban tugas selama satu tahun ke depan? Apakah Aku dapat bertahan hidup dengan keterbatasan di sini? Dan apakah Aku bisa bertahan hidup jauh dari orang tua? Ada banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang menggantung di kepalaku, namun Aku tidak bisa menemukan jawaban yang pasti.

Satu minggu berlalu, dan aku masih belum mengerti tentang dirimu, Aimere. Layaknya sepasang kekasih yang baru pacaran, Aku hanya bisa meraba-raba dan berusaha untuk lebih mengerti dan memahamimu. Sekarang, tidak terasa Aku sudah satu bulan berada di tanahmu. Ada berbagai pengalaman-pengalaman hidup yang kau ajarkan kepadaku. Lewat alam, lewat kehidupan bermasyarakat, lewat kehidupan berkeluarga, sedikit demi sedikit Aku sudah bisa merasakan hidup di sini walaupun Aku sendiri masih merasa sangat rindu kepada kampung halamanku, Purbalingga.

Masih teringat jelas di kepalaku saat dulu Aku berada di rumah dengan segala ketercukupan yang ada, Aku seakan-akan menyia-nyiakannya. Di rumah, air sangat melimpah sampai Aku sendiri tidak pernah kekurangan air bersih. Namun Aku selalu menyia-nyiakan air di rumah. Aku jarang mandi di rumah dengan berbagai alasan, mencuci pakaian kalau lagi ingin, aku selalu membuang air untuk keperluan yang tidak terlalu penting, dan banyak hal lain yang Aku rasa seperti tidak ada rasa bersyukur. Ketika aku berada di tanahmu, air begitu sulit di dapat, Aku harus menunggu 2-4 hari sampai air keluar dari selang kecil yang langsung mengarah ke bak penampungan besar di rumah singgahku, dan habis itu air akan mati lagi sampai 2-4 hari kemudian, begitu seterusnya.
Hari ini, Aku sudah dua hari tidak mandi karena persediaan ar di bak penampunganku tinggal sedikit, mungkin kalau dipakai untuk mandi 4 orang tidak akan cukup. Aku hanya bisa menerawang ke belakang, pikiranku jauh melayang ke dalam rumahku di pulau Jawa. Dua hari tidak mandi di sini tentu saja sangat berbeda ketika Aku tidak mandi seperti tempo hari di rumah, dan Aku rasa bersyukur adalah satu-satunya cara terbaik bagiku untuk lebih menghargai kenikmatan-kenikmatan yang diberikan oleh Tuhan kepadaku.

Ketika hubunga dengan keluarga juga misalnya, di rumah Aku sangat jarang menyentuh sapu untuk sekedar membersihkan halaman depan ataupun halaman belakang rumah. Semua kegiatan praktis hanya dilakukan oleh Ibu ataupun SiMbah. Ketika orangtua sedang membersihkan rumah, Aku hanya bisa tiduran dan malas-malasan di depan televisi ataupun sibuk dengan main game di laptopku. Namun sekali lagi Aimere, kau mengajarkan Aku tentang atri sebuah perjuangan yang dilakukan orangtuaku. Aku di sini “dipaksa” untuk bisa dalam segala hal yang berhubungan dengan kehidupan berkeluarga. 

Selama hidup di tanahmu dalam sebulan ini, Aku dituntut harus bisa menyembelih ayam, memperbaiki kompor minyak, memasang lampu, dan banyak hal lainnya yang tidak pernah aku lakukan di rumah. Sulit awalnya, namun pembelajaran adalah sebuah proses yang akan membuat kita menjadi lebih baik.

Aimere, malam ini sampai satu tahin ke depan semoga alammu terus bersahabat denganku. Buat Aku nyaman berada di tanahmu. Tanah gersang dan berdebu Aimere, buatlah tiap jengkal tanahmu menjadi sebuah kenangan manis yang akan Aku bawa sebagai oleh-oleh ketika besok Aku pulang di Jawa. Aimere, terimakasih atas pembelajaran yang kau berikan kepadaku, semoga ilmu yang aku dapat darimu, bisa berguna untukku kelak dalam kehidupan keluarga dan bermasyarakat.

Aimere, 1 Oktober 2015.
di kamar berdebu

Comments